Kamis, 06 Oktober 2011

PEDOMAN PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD

SURAT  EDARAN
Nomor : .....................
TENTANG :
PEDOMAN PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD
TAHUN ANGGARAN 2012.

     I.        Dasar       :      a.          Pasal 89 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 116 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
                      b.     Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusnan APBD Tahun Anggaran 2012.
   II.        Dalam Timetable penyusunan APBD TA. 2012, seharusnya penyampaian rancangan KUA dan PPAS oleh Kepala Daerah kepada DPRD telah dilaksanakan pada pertengahan Bulan Juni TA. 2011, untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD TA. 2012 antara Tim Anggaran Pemerintah Daerah dengan Badan Anggaran DPRD serta disepakati paling lambat pada akhir Bulan Juli 2011. Rancangan KUA dan PPAS yang telah disepakati tersebut, menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun, menyampaikan dan membahas RAPBD sampai dengan tercapainya persetujuan bersama terhadap rancangan Peraturan Daerah Tentang APBD TA. 2012 paling lambat pada tanggal 30 Nopember 2011.
            Sejalan dengan hal tersebut, untuk mempercepat pembahasan KUA dan PPAS maka penyampaian kedua dokumen tersebut dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan sehingga hasil dari pembahasan rancangan KUA dan PPAS dapat disepakati dan ditandatangani pada waktu yang sama.



  III.        Pedoman penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD, sebagaimana tercantum dalam Lampiran Surat Edaran ini yang meliputi :
a.     Teknis penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD
b.     Kebijakan dalam perencanaan dan penganggaran pada penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD
c.     Hal-hal khusus lainnya yang mencakup :
                                         1.    Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah Daerah dalam RAPBD TA. 2012 dengan Prioritas Pembangunan Nasional.
                                         2.    Format Nota Kesepakatan KUA dan PPAS
Demikian, untuk menjadi pedoman dan dilaksanakan sepenuhnya.


BUPATI TULANG BAWANG,






DR. ABDURACHMAN SARBINI




Lampiran     :    Surat Edaran Bupati Tulang Bawang
Nomor         :
Tentang       :    Pedoman Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD TA. 2012.


PEDOMAN PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD
TAHUN ANGGARAN 2012

     I.        TEKHNIK PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD
Berdasarkan Nota Kesepakatan KUA dan PPAS, Kepala Daerah menerbitkan Surat Edaran tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD, sebagai acuan/pedoman bagi Kepala SKPD dan SKPKD dalam menyusun rencana kerja dan anggarannya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun RKA-SKPD dan RKA-PPKD antara lain :
þ  RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.
þ  Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilaksanakan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan program dan kegiatan serta manfaat yang diharapkan.
                    A.        RKA-SKPD memuat antara lain :
i.      Rincian anggaran Pendapatan SKPD, yang terdiri dari :
                                                      01.    Pajak Daerah
                                                      02.    Retribusi Daerah
                                                      03.    Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
                                                      04.    Lain-Lain PAD yang sah
ii.     Rincian anggaran Belanja Tidak Langsung SKPD antara lain :
                                                      01.    Gaji pokok dan tunjangan pegawai;
                                                      02.    Tambahan Penghasilan PNS;
                                                      03.    Belanja penerimaan lainnya Pimpinan dan anggota DPRD serta KDH/Wkl. Kdh.
                                                      04.    Khusus pada Sekretariat DPRD dianggarkan pula Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD, dll
iii.    Rincian anggaran Belanja Langsung menurut program dan kegiatan SKPD.

Formulir RKA-SKPD terdiri dari :
                                          i.    Formulir RKA – SKPD.
Memuat ringkasan anggaran SKPD yang sumber datanya berasal dari peringkasan Jumlah pendapatan menurut Kelompok dan Jenis penerimaan yang diisi dalam Formulir RKA-SKPD 1, Jumlah Belanja Tidak Langsung menurut Kelompok dan Jenis Belanja yang diisi dalam formulir RKA-SKPD 2.1 dan penggabungan dari seluruh Jumlah Kelompok dan Jenis Belanja Langsung yang diisi dalam setiap Formulir RKA– KPD 2.2.1.



                                         ii.    Formulir RKA - SKPD 1
Memuat rencana penerimaan SKPD, disesuaikan dengan penerimaan tertentu dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi SKPD sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Kode Rekening, Uraian nama Kelompok, Jenis, Obyek dan Rincian obyek pendapatan yang dicantumkan dalam RKA-SKPD 1 bersumber dari PAD.
                                        iii.    Formulir RKA - SKPD 2.1
Memuat rencana kebutuhan Belanja Tidak Langsung SKPD yang terdiri dari Belanja pegawai untuk Gaji pokok, tunjangan pegawai dan tambahan penghasilan. Khusus untuk SKPD Sekretariat DPRD dianggarkan pula Belanja Penunjang Operasioanal Pimpinan DPRD.
                                        iv.    Formulir RKA - SKPD 2.2.1
Memuat rencana Belanja Langsung dari setiap Kegiatan yang di Programkan, sehingga apabila dalam 1 (satu) Program terdapat 1 (satu) atau lebih kegiatan maka setiap Kegiatan dituangkan dalam formulir RKA-SKPD 2.2.1 masing-masing.
                                         v.    Formulir RKA - SKPD 2.2
Memuat Rekapitulasi dari seluruh program dan kegiatan SKPD yang dikutip dari setiap formulir RKA - SKPD 2.2.1 (Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan Per Kegiatan SKPD).

                    B.        RKA-PPKD
Pasal 98 ayat (3) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selain RKA-SKPD disusun pula RKA-PPKD yang dipergunakan untuk menampung :
i.      Rincian anggaran Pendapatan PPKD meliputi :
                                                      01.    Penerimaan Dana Perimbangan terdiri dari :
a.     Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak
b.     Dana Alokasi Umum
c.     Dana Alokasi Khusus
                                                      02.    Lain-Lain Pendapatan Daerah yang sah terdiri dari :
a.     Pendapatan Hibah
b.     Pendapatan Dana Darurat
c.     Dana Bagi hasil Pajak dari Pemerintah Provinsi
d.     Dana Penyesuaian
e.     Bantuan Keuangan dari Provinsi



ii.     Rincian anggaran Belanja Tidak Langsung PPKD, terdiri dari :
                                                      01.    Belanja bunga;
                                                      02.    Belanja subsidi;
                                                      03.    Belanja hibah;
                                                      04.    Belanja bantuan sosial;
                                                      05.    Belanja bagi hasil;
                                                      06.    Belanja bantuan keuangan; dan
                                                      07.    Belanja tidak terduga
iii.    Rrincian Pembiayaan
                                                      01.    Penerimaan pembiayaam
a.     Sisa Lebih Perhitungan Anggaran TA. sebelumnya
b.     Pencairan dana cadangan
c.     Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
d.     Penerimaan Pinjaman Daerah
e.     Penerimaan kembali pemberian pinjaman
f.      Penerimaan piutang daerah
g.     Penerimaan kembali investasi dana bergulir
                                                      02.    Pengeluaran pembiayaan
a.     Pembentukan dana cadangan
b.     Penyertaan Modal/Investasi pemerintah daerah
c.     Pembayaran pokok hutang
d.     Pemberian pinjaman daerah
Formulir RKA-PPKD terdiri dari :
                                         1.    Formulir RKA-PPKD
Memuat ringkasan anggaran PPKD yang sumber datanya berasal dari peringkasan Jumlah pendapatan menurut Kelompok dan Jenis yang diisi dalam formulir RKA-PPKD.1, Jumlah Belanja Tidak Langsung menurut Kelompok dan Jenis Belanja yang diisi dalam formulir RKA-PPKD 2.1. Khusus formulir RKA-PPKD, setelah baris surplus dan defisit anggaran diuraikan kembali penerimaan dan pengeluaran pembiayaan sebagaimana tercantum dalam formulir RKA-PPKD 3.1 serta formulir RKA-PPKD 3.2
                                         2.    RKA - PPKD 1.
Memuat rencana pendapatan PPKD yang disesuaikan dengan pendapatan tertentu yang akan diterima dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi PPKD berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kode rekening dan uraian nama Kelompok, Jenis, Obyek dan Rincian obyek pendapatan yang dicantumkan dalam formulir RKA-PPKD 1. Pengisian formulir RKA-PPKD 1
                                         3.    RKA - PPKD 2.1
Memuat rencana kebutuhan Belanja Tidak Langsung PPKD pada tahun anggaran yang direncanakan. Pengisian Jenis Belanja Tidak Langsung berpedoman pada Ketentuan Pasal 37 peraturan ini.
                                         4.    RKA - PPKD 3.1
                                         5.    RKA - PPKD 3.2
    II.        KEBIJAKAN DALAM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PADA PENYUSUNAN RKA-SKPD DAN RKA-PPKD.
Ketentuan Pasal 90 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD berdasarkan Prestasi Kerja dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan hasil yang diharapkan dari program dan kegiatan yang direncanakan.
Pokok-Pokok Kebijakan yang perlu mendapat perhatian dalam penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD terkait dengan pendapatan, belanja dan pembiayaan adalah sbb :
                     1.        PENERIMAAN
                                          i.    Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan komponen utama dalam Pendapatan Asli Daerah yang pada saat ini diatur dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Masing-Masing SKPD hanya dapat menganggarkan rencana pendapatan yang bersumber dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sesuai dengan pelaksanaan dari tugas pokok dan fungsi SKPD, dengan ketentuan sbb :
01.  Penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dituangkan dalam RKA-SKPD merupakan perkiraan yang terukur, tidak memberatkan masyarakat dan/atau dunia usaha serta rasional serta memiliki kepastian DASAR HUKUM penerimaannya.
02.  Peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah berpedoman pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
03.  Dalam hal RSUD telah berbentuk BLUD maka penerimaan RSUD tersebut dicantumkan dalam RKA-SKPD pada Jenis penerimaan Lain-Lain PAD yang sah, Objek Pendapatan BLUD, Rincian Objek Pendapatan BLUD. Dalam hal belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD maka penerimaan Rumah Sakit tersebut termasuk Pelayanan Masyarakat Miskin melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) dituangkan dalam RKA-SKPD pada Jenis Retribusi Daerah
04.  Penerimaan dari Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan hanya dianggarkan pada RKA-PPKD pada akun Pendapatan, Kelompok PAD, Jenis Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, Objek Pendapatan Bagian Laba atas Penyertaan Modal Daerah.
05.  Penerimaan dari hasil Pengelolaan Dana Bergulir, dialokasikan pada RKA-PPKD pada Akun Pendapatan Kelompok PAD, Jenis Lain-Lain PAD yang sah, Obyek pendapatan hasil Pengelolaan Dana bergulir dan Rincian obyek hasil pengelolaan dana bergulir dari kelompok masyarakat.
06.  Penerimaan bunga dari dana cadangan dianggarkan pada RKA-PPKD pada Jenis Pendapatan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah.
                                         ii.    Dana Perimbangan.
Dana Perimbangan merupakan penerimaan daerah yang bersumber dari APBN (Belanja Transfer ke Daerah) untuk mendanai kebutuhan daerah serta mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah yang diatur dalam Undang-Undang Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Selanjutnya dijelaskan bahwa Dana Perimbangan merupakan “tulang punggung “ APBD Kabupaten Tulang Bawang yang terdiri dari :
01.  Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak
02.  Dana Alokasi Umum
03.  Dana Alokasi Khusus
Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 10 ayat (1) UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD pada Pasal 159 :
Ayat (1)    Presiden mengajukan rancangan Undang-Undang tentang APBN disertai Nota Keuangan dan dokumen pendukungnya kepada DPR pada bulan Agustus tahun sebelumnya.
Ayat (4)    Pengambilan Keputusan oleh DPR mengenai rancangan Undang-Undang tentang APBN dilakukan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.
Hal ini dipahami bahwa, penetapan alokasi Dana Perimbangan oleh Pemerintah baru dapat dilaksanakan sekitar bulan Oktober 2011, Sehingga jika pemerintah daerah menunggu penetapan alokasi definitif Dana Perimbangan TA. 2012 maka proses penetapan APBD TA. 2012 akan mengalami keterlambatan. Menyikapi hal tersebut diperlukan Langkah-Langkah Strategis dan Kebijakan Politik Anggaran sbb :
Penyusunan RKA-PPKD yang Idealnya sudah berjalan sejak awal bulan Agustus 2011, maka untuk pencantuman alokasi Dana Perimbangan TA. 2012 mengikuti ketentuan sbb :
01.  DBH Pajak.
Dana Bagi Hasil Pajak, bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dengan prinsip by origin atau proporsi yang lebih besar bagi daerah penghasil. Kebijakan alokasi DBH diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang terdiri dari :
01.  Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (WPOPDN);
02.  Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
Penganggaran dalam RKA-PPKD didasrkan pada pagu definitif TA. 2011 dengan tetap memperhitungkan realisasi penerimaannya pada TA. 2010.



02.  DBH Sumber Daya Alam.
Memenuhi amanat UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005, bagian pemerintah daerah atas DBH SDA ditetapkan sebesar 80% yang terdiri dari :
01.  SDA Pertambangan Umum;
02.  SDA Kehutanan, serta
03.  SDA Perikanan
Penetapan alokasi DBH Sumber Daya Alam tersebut, dimulai dengan perkiraan alokasi yang dihitung berdasarkan rencana penerimaan yang dimuat dalam UU tentang APBN dan dalam rangka pelaksanaan penyalurannya ke daerah perhitungannya dilakukan berdasarkan realisasi penerimaan tahun anggaran berjalan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data. Untuk hal tersebut Estimasi penganggarannya dalam RKA-PPKD menggunakan Alokasi Pagu Definitif TA. 2011.
03.  Dana Alokasi Umum.
Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah dan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Besaran DAU yang didistribusikan kepada pemerintah daerah mengacu kepada formula yang telah ditetapkan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 yaitu :
01.  Alokasi dasar, yang dihitung atas dasar jumlah gaji PNSD, antara lain meliputi gaji pokok ditambah dengan tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan sesuai dengan peraturan penggajian pegawai negeri sipil; serta
02.  celah fiskal, yaitu selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal.
DAU ditransfer ke Kas Daerah setiap awal bulan sebesar 1/12 dari besaran alokasi DAU yang ditetapkan. Sesuai mekanisme tersebut maka Estimasi alokasi penerimaan DAU TA. 2012 menggunakan pagu definitif TA. 2011.
04.  Dana Alokasi Khusus (DAK)
DAK merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat dalam rangka mendorong percepatan pembangunan daerah. Perhitungan Alokasi DAK dilaksanakan melalui 2 (Dua) tahapan yaitu :
01.  Penentuan Daerah tertentu yang akan menerima DAK dengan memperhatikan :
a.     Kriteria umum,
b.     kriteria khusus, dan
c.     kriteria teknis.
02.  Penentuan besaran alokasi DAK yang dilakukan dengan perhitungan Indeks berdasarkan kreterian Umum, Kreteria Khusus dan Kreteria Khusus.
Menyikapi hal tersebut maka pencantuman penerimaan alokasi DAK TA. 2012 pada RKA-PPKD didasarkan pada alokasi definitif DAK TA. 2011 dan Petunjuk Teknis DAK terkait. Selanjutnya dalam hal Pemerintah Daerah memperoleh alokasi DAK TA. 2012 setelah Perda tentang APBD TA. 2012 ditetapkan, maka penganggaran dan pelaksanaan DAK tersebut dilaksanakan dengan cara :
01.  Terlebih dahulu melaksanakan Perubahan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD TA. 2012
02.  Memberitahukan kepada Pimpinan DPRD, dan
03.  ditampung dalam Perubahan APBD TA. 2012

                                        iii.    Lain-Lain Pendapatan Daerah yang sah.
Penganggaran penerimaan yang bersumber dari Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah, hanya dicantumkan/ dialokasikan dalam RKA-PPKD dengan kebijakan sbb :
01.  Estimasi penerimaan yang bersumber dari DBH Pajak dari Pemerintah Provinsi, didasarkan pada alokasi bagi hasil pada TA. 2011 dengan tetap memperhitungkan realisasi penerimaan DBH Pajak dari Pemerintah Provinsi pada tahun 2010. Dalam hal bagian pemerintah kabupaten yang belum direalisasikan oleh pemerintah provinsi sebagai akibat dari pelampauan target penerimaan TA. 2011 ditampung dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2012, dengan rincian penerimaan sbb :
01.  Hasil penerimaan dari PKB dan BBN-KB diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 30%.
02.  Hasil penerimaan dari Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor/ PBB-KB, dibagi hasilkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar70%.
03.  Hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 70%
04.  Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebesar 50%
02.  Dana Penyesuaian.
Dana Penyesuaian merupakan dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan tertentu sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Tentang APBN disebutkan bahwa dana penyesuaian terdiri dari :
01.  Dana tambahan penghasilan guru PNSD
02.  Dana insentif daerah (DID);
03.  Tunjangan profesi guru (TPG) PNS Daerah; dan
04.  Bantuan operasional sekolah (BOS)
Estimasi penerimaan dana penyesuain sebagaimana tersebut diatas didasarkan pada alokasi dana penyesuaian TA. 2011. Dalam hal penerimaan dana penyesuaian setelah penetapan Perda tentang APBD TA. 2012 maka penganggaran dan pelaksanaan kegiatan dimaksud dilakaukan dengan cara menetapkan Peraturan Bupati tentang Perubahan Penjabaran APBD TA. 2012 mendahului Penetapan Perda tentang Perubahan APBD TA. 2012.
Penganggaran dana  Bantuan Operasional Sekolah (BOS), didasarkan pada alokasi dana BOS TA. 2011, dengan memperhatikan realisasi dana BOS TA 2010. Selisih lebih atau kurang dari alokasi anggaran untuk dana BOS ditampung dalam perubahan APBD TA. 2012 dengan cara terlebih dahulu melakukan Perubahan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD Tahun Anggaran 2012 dengan pemberitahuan kepada Pimpinan DPRD.
                     2.        BELANJA
Belanja SKPD disusun dengan pendekatan prestasi kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan, oleh karena itu dalam penyusunan RKA-SKPD agar lebih mengutamakan pada pencapaian hasil melalui program dan kegiatan Belanja Langsung dari pada keperluan Belanja Tidak Langsung.
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa rencana belanja dikelompokan menurut Kelompok Belanja Tidak Langsung dan Kelompok Belanja Langsung, yang masing-masing kelompok diuraikan menurut Jenis, Objek dan Rincian Objek Belanja.
                                          i.    BELANJA TIDAK LANGSUNG
Belanja Tidak Langsung yang dianggarkan pada masing-masing RKA-SKPD adalah untuk keperluan :
01.  Belanja Pegawai.
01.  Gaji dan Tunjangan
Dianggarkan untuk pemberian Gaji Pokok dan Tunjangan Pegawai serta pembayaran Gaji ke tigabelas serta tambahan penghasilan pegawai. Untuk mengantisipasi adanya kenaikan gaji pokok dan tunjangan pegawai, gaji berkala dan penambahan PNSD dilaksanakan dengan memperhitungkan Acress sebesar 2,5% dari jumlah belanja pegawai. Khusus pada Sekretariat DPRD dianggarkan juga Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD.
02.  Alokasi anggaran untuk penyelenggaraan asuransi kesehatan sebagaimana ditentukan dalam PP Nomor 28 Tahun 2003 tentang Subsidi dan luran Pemerintah dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi PNS dan Penerima Pensiun, dianggarkan pada masing-masing RKA-SKPD.



03.  Penganggaran Penghasilan dan Penerimaan Lainnya Pimpinan dan Anggota DPRD, serta alokasi Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD harus berdasarkan pada :
a.     Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007
b.     Permendagri No. 21 Tahun 2007 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran dan Pertanggungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif dan Dana Operasional.
04.  Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berpedoman pada ketentuan sebagai berikut :
a.     Penganggaran belanja Kdh dan Wkl. Kdh berdasarkan pada PP No. 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
b.     Biaya Penunjang Operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) PP No. 109 Tahun 2000 yang semula tertulis "Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah Kabupaten/Kota" termasuk didalamnya "Biaya Penunjang Operasional Wakil Kepala Daerah Kabupaten/Kota".
05.  Biaya Pemungutan PBB (BP-PBB)
Alokasi Biaya Pemungutan PBB merupakan perkiraan yang akan diterima dalam TA, 2012 berdasarkan atas rencana penerimaan PBB sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-Undang Tentang APBN TA. 2012. Dengan demikian penyaluran perkiraan alokasi Biaya Pemungutan PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB pada tahun anggaran berjalan.
Berkenaan dengan hal tersebut, Estimasi penerimaan BP-PBB dialokasikan berdasarkan perkiraan TA. 2011 dengan memperhitungkan Realisasi penerimaan pada TA. 2010.
06.  Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, dapat dianggarkan oleh masing-masing SKPD yang melaksanakan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah serta mencapai kinerja yang ditentukan.



Kepala SKPD yang melaksanakan pemungutan pajak daerah dan/atau retribusi daerah, menyusun anggaran Insentif pemungutan pajak daerah dan/atau retribusi daerah berdasarkan target kinerja penerimaan pajak daerah dan/atau retribusi daerah dlm tahun anggaran berjalan yang diformulasikan ke dalam RKA-SKPD.
Insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah, dikelompokan pada Belanja Tidak Langsung, Jenis Belanja Pegawai, Obyek belanja Insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah serta Rincian Obyek Belanja Insentif Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Isentif dimaksud dapat diberikan sepanjang telah diatur dalam Peraturan Bupati tentang Tatacara pemberian dan pemanfaatan insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah.
02.  Belanja Hibah
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari APBD, pemerintah daerah dapat memberikan Hibah berupa uang, barang atau jasa dengan tujuan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat.
Belanja Hibah dipergunakan untuk menganggarkan pemberian Hibah kepada :
01.  Pemerintah dalam hal ini diberikan kepada Instansi Vertikal seperti untuk kegiatan TMMD, pengamanan daerah dan penyelenggaraan PILKADA oleh KPUD dan PANWAS Kabupaten serta Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang wilayah kerjanya berada dalam Kabupaten Tulang Bawang.
02.  Pemerintah daerah lainnya, dalam hal ini diberikan kepada kabupaten baru hasil pemekaran daerah sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan.
03.  Masyarakat dalam hal ini diberikan kepada kelompok orang yang memiliki kegiatan tertentu dalam bidang perekonomian, pendidikan, kesehatan, keagamaan, kesenian, adat istiadat, dan keolahragaan non-profesional.
04.  Organisasi kemasyarakatan dalam hal ini kepada organisasi kemasyarakatan yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan seperti kepada PMI, KONI, Pramuka, Korpri dan PKK.
Hibah berupa uang dicantumkan dalam RKA-PPKD pada Kelompok Belanja Tidak Langsung, Jenis Belanja Hibah, Obyek dan Rincian obyek belanja yang terkait.
Berkenaan dengan Penganggaran Hibah kepada KPUD dan PANWAS Kabupaten Tulang Bawang dalam rangka penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wkl. Kepala Daerah didasarkan pada Permendagri Nomor 44 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Belanja Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2009.
Hibah berupa barang atau jasa dicantumkan dalam RKA-SKPD pada Kelompok Belanja Langsung yang diformulasikan kedalam program dan kegiatan serta diuraikan kedalam Jenis Belanja Barang dan Jasa, Obyek belanja hibah barang dan jasa berkenaan kepada pihak ketiga/masyarakat dan rincian obyek belanja hibah barang atau jasa kepada pihak ketiga/masyarakat berkenaan pada SKPD.
03.  Belanja Bantuan Sosial.
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dan Pasal 26 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari APBD, Pemerintah daerah dapat memberikan bantuan Sosial berupa uang atau barang kepada :
01.  Anggota/kelompok masyarakat yang meliputi : Individu, keluarga dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat dari krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, atau fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum.
02.  Lembaga non pemerintahan bidang pendidikan, keagamaan dan bidang lain yang berperan untuk melindungi individu, kelompok, dan/ atau masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.
Penganggaran belanja bantuan Sosial berupa uang  dicantumkan dalam RKA-PPKD pada Kelompok Belanja Tidak Langsung, Jenis Belanja Bantuan Sosial, Obyek dan Rincian Obyek belanja berkenaan.
Untuk penganggaran belanja bantuan sosial yang berupa barang dicantumkan dalam RKA-SKPD pada Kelompok Belanja Langsung yang diformulasikan kedalam Program dan Kegiatan, yang diuraikan kedalam Jenis Belanja Barang dan Jasa, obyek belanja bantuan sosial barang berkenaan yang akan diserahkan kepada pihak ketiga/ masyarakat, dan rincian obyek belanja bantuan sosial barang yang akan diserahkan pihak ketiga/ masyarakat berkenaan.



04.  Belanja Bantuan Keuangan
Penganggaran belanja bantuan keuangan dialokasikan pada RKA-PPKD yang terdiri dari :
01.  Belanja Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik yang dialokasikan pada Jenis belanja bantuan keuangan, objek belanja bantuan keuangan kepada partai politik dan rincian objek belanja dengan nama partai politik penerima bantuan keuangan.
Selanjutnya berkenaan dengan besaran penganggaran, pelaksanaan dan pertanggungjawaban bantuan keuangan kepada partai politik berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2009 Tentang pedoman tatacara penghitungan, penganggaran dalam APBD, pengajuan, penyaluran, dan laporan pertanggungjawaban penggunaan bantuan keuangan Partai Politik, serta Peraturan Bupati tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
02.  Tunjangan Penghasilan Perangkat Kampung/ TPAPK
03.  Alokasi Dana Desa (ADD) sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.
05.  Belanja Tidak Terduga 
Penganggaran belanja tidak terduga dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2010 dan kemungkinan adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi berulang, seperti :
01.  kebutuhan tanggap darurat bencana
02.  penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak tertampung dalam bentuk program dan kegiatan pada Tahun Anggaran 2012,
03.  Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah pada tahun-tahun sebelumnya
Dalam rangka mengantisipasi pengeluaran untuk keperluan pendanaan keadaan darurat dan keperluan mendesak, dapat dicantumkan Kriteria belanja untuk keadaan darurat dan Keperluan mendesak dalam Peraturan Daerah tentang APBD TA. 2012, Sebagaimana diamanatkan dalam Penjelasan Pasal 81 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005




                                         ii.    BELANJA LANGSUNG
Ketentuan Pasal 97 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, disebutkan bahwa Belanja Langsung terdiri atas :
þ  Belanja Pegawai;
þ  Belanja Barang dan Jasa; serta
þ  Belanja Modal
Berkenaan dengan alokasi Belanja Langsung pada masing-masing RKA-SKPD dalam rangka pelaksanaan Program dan Kegiatan, perlu memperhatikan hal-hal sbb :
01.   Belanja Pegawai
01.  Penganggaran honorarium bagi PNSD supaya dibatasi frekuensinya sesuai dengan kewajaran beban tugas PNSD yang bersangkutan. Dasar penghitungan besaran honorarium disesuaikan dengan Standar Biaya yang telah ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
02.  Penganggaran Honorarium Non PNSD, hanya dapat disediakan bagi pegawai tidak tetap yang benar-benar memiliki peranan dan kontribusi serta yang terkait langsung dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan pada masing-masing SKPD, termasuk didalamnya untuk Narasumber/ Tenaga ahli di luar instansi pemerintah.
03.  Uang Lembur
Merupakan kompensasi bagi PNS yang melakukan Kerja Lembur MINIMAL 1 (stau) Jam penuh, Berdasarkan Surat Perintah dari pejabat yang berwenang. Pemberian uang lembur dan uang makan lembur memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
                                                                                         a.    Uang makan lembur diperuntukkan bagi semua golongan dengan besaran yang sama dan dapat diberikan setelah bekerja lembur Minimal 2 (dua) jam berturut-turut.
                                                                                         b.    Batas waktu Kerja Lembur pada hari kerja MAKSIMAL 3 (Tiga) Jam/ hari atau 15 (Lima belas) Jam/ Minggu.
                                                                                         c.    Pada hari libur kerja, Waktu kerja Lembur dapat melebihi 3 (tiga) Jam/ hari.
                                                                                         d.    Pada hari libur kerja, tarif uang lembur 200% dari tarif uang lembur pada hari kerja dan dalam hal kerja lembur dilaksanakan selama 8 (delapan) jam atau lebih, uang makan lembur diberikan maksimal 2 (dua) kali.



04.  Honorarium Pengelolaan Dana BOS
Hanya digunakan untuk pengelolaan belanja dana BOS pada RKA-SKPD Dinas Pendidikan dan RKA-PPKD Belanja Hibah Dana Bantuan Operasional Sekolah SD dan SMP Swasta di Kabupaten Tulang Bawang.
05.  Uang untuk diberikan kepada Pihak Ketiga/ masyarakat.
Rekening ini dapat dipergunakan oleh masing-masing SKPD untuk menganggarkan pemberian hadiah dalam bentuk uang kepada kelompok masyarakat dan/atau perorangan yang berprestasi terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah baik yang diperoleh melalui lomba Desa/ Kelurahan atau berprestasi dalam pelatihan.
02.  Belanja Barang Dan Jasa
Belanja Barang/Jasa, dipergunakan untuk menganggarkan pengadaan barang/jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan barang yang akan diserahkan atau dijual kepada masyarakat atau pihak ketiga sebagaimana diatur dalam Pasal 52 ayat (1) Permendagri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Selanjutnya disebutkan dalam  Pasal 52 ayat (2) Permendagri Nomor 21 Tahun 2012 tentang Perubahan kedua atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Belanja Barang/Jasa dimaksud terdiri dari :
01.  Belanja barang pakai habis;
Dalam menetapkan jumlah anggaran untuk belanja barang pakai habis agar disesuaikan dengan kebutuhan Riil dan dikurangi dengan sisa barang persediaan tahun anggaran 2011. Untuk menghitung kebutuhan riil disesuaikan dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi SKPD dengan mempertimbangkan jumlah pegawai dan volume pekerjaan.
02.  Bahan/material;
Digunakan untuk mengalokasikan biaya bahan baku dan material dalam rangka pelaksanaan Program dan Kegiatan masing-masing SKPD.
03.  Jasa kantor;
Digunakan untuk mengalokasikan kebutuhan jasa kantor seperti pembayaran Listrik, telpon, air, Internet, dll. Sejalan dengan amanat Pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, agar masing-masing SKPD dapat menganggarkan PKB dan BBN-KB kendaraan bermotor Milik Pemerintah Daerah, termasuk memperhitungkan pembayaran beban Pajak pengadaan kendaraan bermotor baru oleh masing-masing SKPD bersangkutan.
04.  Premi asuransi;
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Biaya Premi Asuransi Kesehatan bagi Anggota DPRD dan Biaya premi asuransi atas aset Pemerintah Daerah yang diformulasikan kedalam bentuk Program dan Kegiatan SKPD terkait.
05.  Perawatan kendaraan bermotor;
06.  Cetak/penggandaan;
07.  Sewa rumah/gedung/gudang/parkir;
08.  Sewa sarana mobilitas;
09.  Sewa alat berat;
10.  Sewa perlengkapan dan peralatan kantor;
11.  Makanan dan minuman;
12.  Pakaian dinas dan atributnya;
13.  Pakaian kerja;
14.  Pakaian khusus dan hari-hari tertentu;
15.  Belanja Perjalanan Dinas
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Biaya Perjalanan Dinas Keluar Daerah dalam rangka pelaksaan Tugas Pokok dan Fungsi SKPD, yang penganggaran dan pelaksanaannya berdasarkan pada Peraturan Bupati tentang Perjalanan Dinas Keluar Daerah.
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Kunjungan Kerja dan/atau Studi banding agar dilakukan secara selektif dan hanya diperkenankan apabila terkait dengan upaya pengkayaan wawasan dan substansi kebijakan daerah yang sedang dirumuskan oleh pemerintah daerah dan dilengkapi dengan laporan hasil kunjungan kerja dan studi banding dimaksud
16.  Belanja Beasiswa Pendidikan PNS
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan belanja Beasiswa Pendidikan PNS/ Tugas Belajar yang dialokasikan pada SKPD Badan Kepegawaian Daerah dan/atau Sekretariat Kabupaten Tulang Bawang.
17.  Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan Bimbingan Teknis PNS.
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Biaya Pelatihan, Kursus, Sosialisasi dan Bimtek dalam rangka pengembangan SDM yang diselenggarakan oleh Instansi Pemerintah/ Lembaga Non Pemerintah yang bekerjasama dan/atau direkomendasikan oleh departemen terkait.



18.  Belanja Pemeliharaan
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan biaya belanja pemeliharaan yang meliputi :
a.     Pemeliharaan barang inventaris kantor, yang disesuaikan dengan kondisi fisik barang yang akan dipelihara dan lebih diprioritaskan untuk mempertahankan kembali fungsi barang inventaris yang bersangkutan.
b.     Belanja Pemeliharaan Jalan
c.     Belanja Pemeliharaan Jembatan
d.     dst.
19.  Jasa konsultansi
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan belanja:
a.     Jasa Konsultansi Penelitian
b.     Jasa Konsultansi Perencanaan; dan
c.     Jasa Konsultansi Pengawasan
20.  Belanja Barang Dana BOS
Rekening ini hanya dipergunakan oleh SKPD Dinas Pendidikan dalam rangka  pelaksanaan program dan kegiatan BOS.
21.  Belanja Barang yang akan diserahkan kepada masyarakat/ Pihak ketiga.
Rekening ini dipergunakan untuk menganggarkan Belanja Hibah dan Belanja Bantuan Sosial dalam bentuk barang yang diformulasikan kedalam program dan kegiatan SKPD berkenaan.
Selanjutnya dapat juga dipergunakan SKPD untuk menganggarkan pemberian hadiah dalam bentuk barang kepada kelompok masyarakat dan/atau perorangan yang berprestasi terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah baik yang diperoleh melalui lomba Desa/ Kelurahan dan Kelompok masyarakat atau perorangan yang berprestasi dalam pelatihan
22.  Belanja Barang yang akan dijual kepada masyarakat/ Pihak Ketiga

03.  BELANJA MODAL
Dalam rangka perencanaan anggaran untuk pengadaan belanja Modal/ barang inventaris memperhatikan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. Sejalan dengan hal tersebut disampaikan hal-hal sebagai berikut :
Pasal 6 ayat (4) huruf a  Kepala SKPD selaku pengguna barang milik daerah berwenang dan bertanggungjawab mengajukan Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah bagi SKPD yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola.
Selanjutnya sebagaimana diatur dalam Pasal 7,
Ayat (1)    Perencanaan kebutuhan barang milik daerah disusun dalam RKA-SKPD
Ayat (2)    Perencanaan kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah disusun dalam RKA-SKPD.
Ayat (3)    Perencanaan kebutuhan dan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berpedoman pada Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah dan Standar harga yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.
Ayat (4)    Peraturan Kepala Daerah dan Keputusan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dijadikan acuan dalam menyusun Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah/RKBMD dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah/RKPBMD.
Ayat (5)    Rencana kebutuhan barang milik daerah dan Rencana kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Sebagai dasar penyusunan RKA masing-masing SKPD sebagai bahan RAPBD.
Dengan demikian, hal-hal yang berkenaan dengan belanja pemeliharan inventaris kantor dan/atau belanja modal barang milik daerah, direncanakan dan dianggarkan pada masing-masing RKA-SKPD yang diformulasikan kedalam RKA-SKPD dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan SKPD.
                     3.        PEMBIAYAAN DAERAH
                                          i.    Penerimaan Pembiayaan.
01.  Penganggaran SILPA agar dihitung berdasarkan perkiraan yang Rasional.
02.  Pemerintah Daerah dalam rangka menutupi Defisit anggaran dapat melakukan pinjaman daerah dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah.
03.  Penerimaan kembali Pokok pinjaman Dana Bergulir setelah selesai masa perguliran dana, dianggarkan dalam RKA-PPKD pada Akun Pembiayaan Kelompok Penerimaan Pembiayaan Jenis Penerimaan Kembali pemberian pinjaman daerah sesuai dengan Objek dan rincian Objek berkenaan.
                                         ii.    Pengeluaran Pembiayaan
01.  Pemerintah Daerah dapat menganggarkan investasi jangka panjang Non Permanen dalam bentuk Dana Bergulir, sebagaimana diatur dalam Pasal 118 ayat (3) PP 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Penganggaran Dana Bergulir dialokasikan pada RKA-PPKD akun Pembiayaan Daerah kelompok pengeluaran pembiayaan daerah Jenis pemberian pinjman Daerah sesuai dengan Objek dan rincian objek berkenaan.
02.  Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
Pasal 71 ayat (7) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyatakan Investasi Pemerintah Daerah dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal. Berkenaan dengan hal tersebut, pemahaman terhadap pelaksanaan Pasal 71 ayat (7) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yaitu :
Perda tentang Penyertaan Modal dimaksud merupakan LANDASAN HUKUM yang memuat Kebijakan awal/ Induk yang mengatur tentang Kebijakan dan Jumlah Modal yang akan ditempatkan/disertakan pada BUMD dan/atau Badan Usaha lainnya. Selanjutnya dalam perkembangan Usaha dan Investasi, bilamana diperlukan penambahan Penyertaan Modal akan dilakukan/ dilaksanakan melalui mekanisme Pembahasan APBD dan ditetapkan dalam Perda tentang APBD tahun anggaran berkenaan, dimana untuk pertimbangan ataupun Jumlah Penyertaan Modal nya ditambahkan dalam DIKTUM/ PASAL tertentu pada Perda tentang APBD dimaksud.
                                       iii.    Sisa Lebih Pembiayaan (SILPA) Tahun Anggaran Berjalan=0






  III.        HAL-HAL KHUSUS LAINNYA
Selain Pokok-Pokok Kebijakan dalam Perencanaan dan Penganggaran serta Teknis Penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD, perlu diperhatikan pula Hal-Hal Khusus Lainnya dalam proses penyusunan dan penetapan APBD yang dikaitkan dengan penetapan Undang-Undang Tentang APBN.

                     1.        Anggaran Transfer ke Daerah  antara lain terdiri dari :
                                          i.    Dana Perimbangan yang terdiri dari :
01.  Dana Bagi Hasil
02.  Dana Alokasi Umum
03.  Dana Alokasi Khusus;
                                         ii.    Dana Penyesuaian yang terdiri dari :
01.  Dana tambahan penghasilan guru PNSD
02.  Dana insentif daerah (DID);
03.  Tunjangan profesi guru (TPG) PNS Daerah; dan
04.  Bantuan operasional sekolah (BOS)
                     2.        Program dan kegiatan yang dibiayai dari dana transfer dan sudah jelas peruntukannya seperti DAK, Dana Darurat, Dana Bencana Alam, dan pelaksanaan kegiatan dalam keadaan darurat dan/atau mendesak lainnya, yang belum cukup tersedia dan/atau belum dianggarkan dalam APBD, dapat dilaksanakan mendahului penetapan peraturan daerah tentang Perubahan APBD dengan cara :
                                          i.    Menetapkan Peraturan Bupati tentang Perubahan Penjabaran APBD dan memberitahukan Kepada Pimpinan DPRD;
                                         ii.    Menyusun RKA-SKPD dan mengesahkan DPA-SKPD sebagai dasar pelaksanaan kegiatan;
                                        iii.    Ditampung dalam peraturan daerah tentang perubahan APBD, atau disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, apabila daerah telah menetapkan perubahan APBD atau tidak melakukan perubahan APBD.
    1. Alokasi belanja yang bersumber dari DAK, dianggarkan pada RKA-SKPD yang berkenaan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Berkenaan dengan penerimaan/ alokasi DAK TA. 2012 yang tidak akan sama dengan tahun anggaran sebelumnya baik bidang ataupun besaran alokasinya, maka untuk penganggaran/penggunaan alokasi pagu definitif DAK TA. 2012 sesuai dengan yang ditetapkan oleh pemerintah akan langsung dicantumkan dan/atau disesuaikan dengan program dan kegiatan DAK TA. 2012 dalam mekanisme pembahasan RAPBD.
    2. Dalam hal Pemerintah Daerah menerima pagu alokasi DAK setelah KUA dan PPAS ditetapkan, maka untuk menjaga konsistensi antara substansi KUA dan PPAS dengan RAPBD, pencantuman alokasi pagu definitif DAK dalam RAPBD langsung ditampung dan/atau disesuaikan dalam pembahasan RAPBD dengan terlebih dahulu mencantumkan klausul dalam Nota Kesepakatan KUA dan PPAS yang menyatakan bahwa “sambil menunggu pagu alokasi DAK yang ditetapkan Pemerintah, pagu alokasi tersebut dapat langsung ditampung dan/atau disesuaikan pada saat proses pembahasan RAPBD dengan mengacu pada petunjuk teknis DAK, tanpa perlu melakukan perubahan Nota Kesepakatan KUA dan PPAS”.
    3. Dalam hal pagu DAK diterima setelah kesepakatan KUA dan PPAS yang menggunakan klausul tersebut diatas, maka penyusunan RKA-PPKD dan RKA-SKPD dilaksanakan sebelum persetujuan bersama antara pemerintah daerah dengan DPRD mengenai Raperda tentang APBD TA, 2012
    4. Pencantuman klausul dimaksudkan untuk menyepakati pagu alokasi dan penggunaan DAK dalam rancangan Peraturan Daerah tentang APBD serta untuk menjaga konsistensi antara materi KUA dan PPAS dengan program dan kegiatan DAK yang ditetapkan dalam APBD.
                     7.        Penyediaan dana pendamping hanya untuk kegiatan yang telah diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan seperti DAK. Untuk Kegiatan fisik yang dananya bersumber dari DAK, agar dialokasikan dana pendamping minimal 10% yang penganggarannya disusun menyatu dengan RKA-SKPD Kegiatan DAK berkenaan.
                     8.        Dalam hal Pemerintah Daerah menerima dana Belanja Transfer ke daerah dan/atau Dana Penyesuaian untuk pelaksanaan kegiatan yang sudah jelas peruntukannya setelah Peraturan Daerah tentang APBD TA. 2012 ditetapkan, maka penganggaran dan pelaksaan program/kegiatan dimaksud dilaksanakan melalui mekanisme “Perubahan Peraturan Bupati tentang Penjabaran APBD TA. 2012 mendahului Penetapan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD TA. 2012” dengan pemberitahuan kepada Pimpinan DPRD yang selanjutnya ditampung dalam Perubahan APBD TA. 2012.
    1. Sebagaimana dimanatkan dalam Pasal 39 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Satuan Biaya untuk Perjalanan Dinas telah diatur dengan Peraturan Bupati tentang Perjalanan Dinas Keluar Daerah dengan menggunakan pendekatan penetapan biaya baik Lumpsum ataupun at cost.
    2. Bagi SKPD yang menyelenggarakan kegiatan yang dananya bersumber dari Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan/atau Bantuan Keuangan, agar tetap berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor :
    3. Peraturan Bupati tentang Tatacara Pemberian dan Pertanggungjawaban Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan Bantuan Keuangan.